BRICS dan blok eurasia lebih cepat membangun aturan internasional: belajar dari persekutuan moti 1322
Tab primer

Sebuah peradaban yang menyimpan seribu konsep geopolitik
Dunia seolah membalikkan peristiwa kepungan 70 tahun dibawah komando perang dunia-II antara sekutu Inggris dan Amerika Serikat melawan Tiongkok dan Uni-soviet kini Rusia. Parade globalisasi menutupi itu dengan dalil kerjasama win-win menang-menang atau sistem multipolar, dimana semua negara ikut main dengan patronya masing-masing, seperti hari ini, kebangkitan Tiongkok dan Rusia melalui kerjasama Eurasia dan mini aliansi terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan (BRICS).
Kebangkitan Eurasia dihalangi oleh kekuatan yang lebih dulu eksis semenjak era perang dingin seperti Eropa Barat: Jerman, Inggris, Prancis dan sekutu abadinya Amerika Serikat, dua tanduk kekuasaan ini melebarakan pengaruh dari Timur ke Barat hingga Utara dan Selatan. Semua memasang barisan masing-masing untuk dijadikan sebagai penyangga, namun kenyataan sejarah yang menguak kembali watak empire-nya. Banyak negara saat itu yang jadi korban dari pergolakan ini, misalkan Iran, Suriah, Yaman, turut berkolaborasi secara milter dengan Rusia dan Tiongkok, disisi lain Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Israel melakukan diplomasi militer untuk lebih agresif dalam hal penguasaan area sumber cadangan ekonomi. Dua blok kekuatan berhadapan untuk mengamankan cadangan sumber daya alam di Timur Tengah sekaligus ikut mengontrol penuh kawasan strategis yang menghubungkan tiga benua, mulai dari Asia, Eropa dan Timur Tengah.Peristiwa adalah pengalaman yang bisa bercermin melihat jati diri, mengenal, menghayati, dan memahami kemudian bertindak. Dan apakah hukum internasional telah mati, suatu kuburan akan telah disiapkan bagai mereka yang berani mengangkat keberanian secara bersama, Eurasia dan visi BRICS lebih utama dan harus cepat menanggapi. Rumuskan aturan internasional yang berpedoman pada akar peradaban dan tradisi bangsa-bangsa.
Jati diri sebuah bangsa akan terus tersandera oleh infiltrasi neo-kolonialisme dan imperialisme modern, lantaran seringkali mengabaikanya, bahkan sekedar kerangka definisi yang fiksi layaknya cerita-cerita sakral atau bayang-bayang peristiwa semu, sunguh tragis dan menyakitkan, semacam tangisan terakhir yang disebabkan kelumpuhan dalam menggali sejarah. Pada tahun 1322 M masih terekam kuat dalam memori, yakni sebuah momentum bersejarah terjadi di Kepulauan MotiProvinsi Maluku Utara di Indonesia.
Bersamaan dengan itu, dunia masih dalam corak peperangan dan penundukkan wilayah.Perundingan-perundingan telah didorong untuk menemukan solusi perdamaian, tetapi hasilnya masih menyimpang jauh dari yang diharapkan.Katakanlah seperti peristiwa Perang Salib, Perang Yunani-Sparta, bahkan jatuh bangkitnya peradaban Mesir, Byzantium, Yunani, Romawi, dan Tiongkok. Perdamaian dan perundingan merupakan suatu jalan paling tersulit kala itu, namun sebuah manifesto perdamaian layaknya Moti Verbond tidak sama sekali terpikirkan, kalaupun ada hanya sekedar perjanjian dengan penuh syarat, serupa Abraham Accord di Timur Tengah tahun 2020 atau Turdesilas di Eropa abad 15. Keunikan dari Moti Verbond ialah kecenderunganya pada adat yang mengawinkan tradisi dan spritual sekaligus strategi diplomasi perdamaian.
Pulau bernama Moti terdapat di Indonesia bagian Timur Provinsi Maluku Utara, sebuah negeri yang tidak pernah habis ceritanya dalam lipatan zaman. Tercium aroma rempah begitu melelapkan jiwa, sampai datang para pemburu dari belahan matahari terbenam untuk menemukan keharuman aroma itu.Kedatangan bangsa-bangsa Eropa dengan segala perjanjian, pemaksaan, adu domba, yang membuahkan konflik berkepanjangan.
Persekutuan Moti atau istilah yang umum dikenal dengan Motir Verbond merupakan konsep yang dihasilkan melalui pertemuan empat kerajaan, pembicaraanya meliputi diplomasi persatuan dan kesatuan yang merangkum didalamnya, persaudaraan, perdamaian dan keamanan serta pertahanan bangsa. Pertemuan terjadi di Kecamatan Pulau Moti pada tahun1322 M. Sehingga nama Pulau Moti dilekatkan pada istilah Moti Verbond, sementara “Verbond” dalam bahasa Belanda yang artinya Persekutuan. Pertemuan empat kerajaan itulah lahirnya sebuah konsep Persekutuan. Bahwa Empat Kolano Maluku atau lebih dikenal dengan Kolano Ngaruha Moloku Kie Raha, Pernah Mengadakan Pertemuan di Moti pada tahun 1322 M. Secara akademik berkesinambungan antara tokoh-tokoh besar dunia di abad 20 yang mendefinisikan kerjasama Unipolar (satu Kutub) atau Mulitipolar (banyak kutub) dalam peristilahan teori kebijakan geopolitik. Letak kesinambungan konsep kebijakan geopolitik yang diprakarsai lewat Persekutuan Moti bersifat kebersamaan(egality) dan persaudaraan(persaudaraan), maka kebersamaan ini mampu merangkul empat kerajaan dalam pembagian kewenangan.Egalityatau Frathernity keduanya berdiri tegak atas kebudayaan, sehigga membentuk persatuan yang komitmen. Konsepsi itu diuraikan dalam bahasa lokal Moloku Kie Raha memakai gramatika dola bololo (bahasa sastra kerajaan ) atau sebagai berikut:
- Marimoi Ngone Futuru
- Dofu se ma dofu marimoi bato
- Moloku Kie Raha ma asal rimoi bato, ma kabasaran se ma istiadat rimoi bato
- Jou ngon ka dada madopo,fangare ka alam maditi
Artinya:
- Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
- Berasal dari kerajaan yang bebrbeda tetapi kita dalah Satu
- Empat kerajaan Maluku dari satu keturunan dengan kejayaan dan istiadat yang satu pula
- Kalian sebagai penguasa pulau, dan kami sebagai penguasa alam.
Alexander Dugin seorang tokoh penting di Rusia sangat mengharapkan suatu kebangkitan peradaban, kebangkitan bangsa yang mewarisi tradisinya, bukan barat kolektif atau unipolar yang mempersenjatai semua kebijakan sosial, politik dan ilmu pengetahuan untuk menekan negara-negara terjajah pasca perand dunia-II.
Namun, kekurangan Eurasia adalah menyaring masa silam peradaban rempah, sebab diasana konsep multipolar telah lahir dan berkembang selama kurun waktu 20 tahun.
Donald Trump Telah Menipu Dan Kutukanya Adalah Keberanian Manyatukan Semua Peradaban
Peradaban Tiongkok, Persia, Mesir, Rusia maupun Roma dan Yunani dari fase perang dingin hingga sekarang tersugesti dengan aturan internasional atau doktrin pasca perang yakni kelahiran PBB pada 1945, mempersemai perdamaian dan hak asasi manusia, tetapi langkah mundur dan penipuan telah nampak, bagaimana Amerika Serikat dan Israel berdalil seperti penyelamat demokrasi tetapi menipu diatas kertas pasal 51 Bab VII Piagam PBB, tidak ada kompensasi intervensi akan tetapi manipulasi isu yang membuat mereka leluasa dipercaya.
Peristiwa dan konflik geopolitik hari ini patuh belajar dari Persekutuan Moti yang saya telah menuliskanya dalam buku saya dengan judul " Motiverbond Dan Konflik Geopolitik Global ( skema menuju ketahanan perang nuklir )
Di sana ada empat kerajaan yang mencoba merumuskan konsep pertahanan dan keamanan, di dalam wilayah teritorial dibangun sebuah persekutuan yang humanis tanpa ada yang mengkomandoi tapi berdiri bersama dan duduk juga bersama, politik luar negerinya, dicetuskan dengan kemanusiaan yang damai tanpa menindas bangsa-bangsa yang lain.
Bisakah BRICS dan Blok Eurasia Menekuninya? Jika tidak, aturan internasional seperti lelucon anak kecil yang diberi mainan oleh Donald Trump dan Netanyahu.
